Cerpen

Nama            : Chelsy Ryanra

NIM               : 25016207

Prodi             : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Mata Kuliah : Apresiasi Prosa Fiksi Indonesia

Dosen            : Dr. Abdurahman, M.Pd


Nining dan Bubu, Kesayanganku


  Kisah ini bermula ketika aku duduk di kelas 2 SMA. Pada suatu hari Kamis, aku menemani ibu pergi ke pasar tradisional untuk membeli lauk yang akan dimasak untuk makan malam. Pasar itu selalu ramai setiap hari Kamis, dipenuhi pedagang dan pembeli yang saling berinteraksi. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong pasar sambil mencari bahan makanan yang diperlukan.

  Pasar pada hari itu sangat ramai, entah apa yang terjadi, berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pasar terasa jauh lebih sesak, seolah seluruh warga berkumpul di tempat yang sama. Selain penjual yang memiliki tempat tetap, banyak juga penjual yang berlalu lalang sambil membawa dagangan di tangan atau dipikul di bahu. Suara mereka saling bersahutan menawarkan barang dagangan. Bahkan, di beberapa sudut pasar yang ramai, tampak pula pengemis yang duduk sambil berharap belas kasihan dari para pengunjung. Suasana itu membuat langkah kami sedikit terhambat, tetapi juga menghadirkan kesan hidup yang begitu kuat.

  Di tengah perjalanan, perhatianku tertuju pada seorang ibu yang menjual anak ayam kecil berwarna-warni di dalam sebuah kardus. Pemandangan itu terasa begitu akrab karena telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai daerah. Anak-anak ayam itu bergerak aktif, berdesakan, dan sesekali mengeluarkan suara kecil yang nyaring. Aku berhenti sejenak, memperhatikan mereka dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

  Sehari sebelumnya, aku menemukan seekor anak ayam kampung berwarna hitam di sekitar rumah. Ayam itu tampak sendirian dan berkeliling seolah mencari induknya. Tubuhnya terlihat lemah dan langkahnya tidak beraturan, seakan kelelahan. Aku merasa iba melihatnya, lalu memberinya makan. Setelah makan, aku membawanya pulang. Meskipun tampak pasrah, ia terus bersuara, seperti memanggil induk dan saudara-saudaranya. Karena itu, aku mengusulkan kepada ibu untuk membeli satu anak ayam berwarna sebagai temannya, dan ibu pun menyetujuinya.

  Dari sekian banyak anak ayam di dalam kardus, aku memilih seekor ayam berwarna kuning. Alasannya sederhana, ayam itu terlihat paling aktif, berlari ke sana kemari dengan lincah. Tingkahnya yang enerjik membuatku tertarik. Setelah membeli ayam tersebut, aku dan ibu melanjutkan belanja hingga semua kebutuhan terpenuhi. Kami pun pulang ke rumah dengan membawa bahan makanan dan seekor anak ayam kuning yang akan menjadi anggota baru di rumah kami.

  Sesampainya di rumah, aku merasa perlu memberi nama kepada kedua ayam tersebut. Ayam kuning itu aku beri nama Nining, sedangkan ayam kampung hitam aku beri nama Bubu. “Kamu Nining, dan kamu Bubu,” ucapku sambil tersenyum. Aku sendiri tidak mengetahui alasan pasti mengapa memilih nama Bubu, tetapi nama itu terasa cocok baginya. Sejak saat itu, Nining dan Bubu menjadi bagian dari keseharianku.

  Seiring waktu, Nining tumbuh menjadi ayam yang sangat manja, berbeda dengan Bubu yang cenderung menjaga jarak. Nining selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi. Bahkan, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, aku harus keluar rumah secara diam-diam agar ia tidak mengikutiku. Selain itu, Nining memiliki kebiasaan unik, yaitu sering mencuri sandal hingga membuatku kehilangan sebelah sandalku setiap hari. Salah satu kebiasaan unik Nining yang lain ialah suka mematuk orang lain, bahkan aku sendiri juga sering kali dipatuk.

 Namun, ada satu hal yang selalu membuatku merasa dekat dengan Nining. Walaupun ia dikenal sebagai ayam yang suka mematuk, anehnya aku tidak pernah merasa takut padanya. Setiap kali aku memeluknya, ia justru menjadi tenang dan tidak mematuk sama sekali. Seolah-olah ia menikmati kehangatan dari pelukan itu. Berbeda dengan Bubu, yang jika dipeluk malah terlihat gelisah dan berusaha melepaskan diri.

  Bulu Nining juga sangat tebal dan lembut, membuatku merasa nyaman saat memeluknya. Mungkin sebagian orang akan menganggapku aneh karena suka memeluk ayam. Mereka mungkin membayangkan ayam itu kotor atau berbau tidak sedap. Namun, Nining tidak seperti itu. Ia justru harum seperti bedak bayi karena aku sering mengusap bedak bayi ke bulunya. Hal itu membuatnya terasa lebih bersih dan menyenangkan untuk didekati.

  Sementara itu, Bubu memiliki bulu hitam pekat yang tipis. Tubuhnya lebih kurus dibandingkan Nining, meskipun sebenarnya ia makan lebih banyak. Aku sering heran melihat perbedaan mereka. Nining yang makan lebih sedikit justru tampak lebih gemuk dan sehat, sedangkan Bubu tetap kurus. Meskipun begitu, aku tetap menyayangi mereka berdua dengan cara yang sama.

 Tingkah Nining yang gemar mematuk membuatnya kurang disukai oleh para tetangga. Ia sering mengejar siapa saja yang melewati depan rumah, bahkan orang yang sedang mengendarai sepeda motor. Perilakunya mirip dengan angsa penjaga yang melindungi wilayahnya. Meskipun demikian, bagiku, Nining tetaplah makhluk yang menghadirkan keceriaan tersendiri dalam hidupku. Sifatnya yang aktif dan manja membuat hari-hariku terasa lebih berwarna.

  Waktu berlalu dengan cepat. Satu setengah tahun kemudian, aku mulai memikirkan masa depan, seperti memilih perguruan tinggi dan jalur masuk yang akan ditempuh. Pada saat yang sama, Nining dan Bubu mulai menua dan mengalami penyakit yang umum terjadi pada ayam. Nining tampak lemas dan bagian jenggernya berjamur, begitu pula dengan Bubu. Ibu sempat menyarankan agar keduanya disembelih agar tidak menderita terlalu lama. Namun, aku menolak karena telah menyayangi mereka.

  Setelah kejadian itu, kondisi Nining dan Bubu semakin memburuk. Tubuh mereka tampak semakin lemah, dan penyakit yang diderita tidak kunjung membaik. Ibu kembali mendesakku untuk segera menyembelih mereka. Menurutnya, jika dibiarkan hingga mati begitu saja, semuanya akan sia-sia. Mendengar hal itu, hatiku terasa berat, tetapi pada akhirnya aku mengiyakan keputusan tersebut.

  Keesokan harinya, Nining dan Bubu pun disembelih. Aku tidak sanggup melihat prosesnya secara langsung. Dari dalam rumah, aku hanya bisa mendengar suara-suara samar yang membuat dadaku sesak. Ibu dan nenek tampak senang karena tidak perlu lagi membeli ayam untuk dimasak, apalagi bulan Ramadan sudah semakin dekat.

 Namun, perasaanku justru berbanding terbalik. Aku menangis hampir sepanjang hari karena kehilangan mereka. Kenangan tentang Nining yang selalu mengikutiku dan Bubu yang diam namun setia, terus terlintas di pikiranku. Saat masakan dari daging mereka telah siap, aku tidak sanggup menyentuhnya sedikit pun.

  Hari-hari setelah itu terasa sunyi. Tidak ada lagi langkah kecil yang mengikutiku, tidak ada lagi sandal yang hilang, dan tidak ada lagi pelukan hangat dari seekor ayam kuning yang manja. Kesunyian itu membuatku menyadari betapa besar arti kehadiran mereka dalam hidupku.

 Kesedihan itu mengajarkanku satu hal penting, yaitu setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan. Meski terasa menyakitkan, aku mencoba menerima kenyataan tersebut. Dalam diam, aku berharap, mungkin di kehidupan lain nanti, aku dapat bertemu kembali dengan Nining dan Bubu dalam keadaan yang lebih baik dan tanpa harus merasakan kehilangan seperti ini lagi.

  Beberapa minggu setelah kepergian Nining dan Bubu, aku masih sering teringat pada mereka. Kadang, tanpa sadar aku masih menoleh ke arah halaman, seolah berharap melihat Nining berlari kecil menghampiriku atau mendengar suara khasnya yang nyaring. Ada kalanya aku juga masih mencari sandal yang tidak benar-benar hilang, hanya karena sudah terbiasa dengan tingkahnya yang usil. Kenangan-kenangan kecil itu justru menjadi hal yang paling sering muncul di pikiranku.

  Aku mulai menyadari bahwa kehilangan tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Justru dari kehilangan itu, aku belajar menghargai setiap momen yang pernah ada. Nining dan Bubu mungkin sudah tidak lagi bersamaku, tetapi kenangan tentang mereka akan selalu hidup dalam ingatanku. Dari mereka, aku belajar tentang kasih sayang yang tulus, tentang kesetiaan, dan tentang arti merawat sesuatu dengan sepenuh hati.

  Kini, setiap kali aku melihat ayam kecil di pasar atau di halaman rumah orang lain, aku selalu teringat pada mereka. Dalam hati, aku akan selalu menyebut nama mereka Nining dan Bubu, kesayanganku.

 Selain itu, aku juga mulai memahami bahwa setiap makhluk hidup memiliki waktunya masing-masing. Tidak ada yang benar-benar bisa kita miliki selamanya. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga dan menyayangi selama mereka masih ada. Kenangan bersama Nining dan Bubu menjadi pengingat bagiku bahwa kebahagiaan sederhana bisa datang dari hal-hal kecil yang sering kali tidak kita sadari. Kini, aku berusaha untuk lebih menghargai setiap momen, sekecil apa pun itu, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Comments

Popular posts from this blog

LAPORAN BACAAN

Esai